Pages

Labels

Khadafi Sebut Obama Putra Kami

TRIPOLI- Pemimpin Libya Muammar Khadafi menulis surat untuk Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, sebagai pembelaan atas keputusan rezim Libya menyerang pemberontak. Dalam surat itu, Khadafi memanggil Obama dengan sebutan “putra kami”.

Khadafi, 68, juga menulis sepucuk surat untuk pemimpin Prancis dan Inggris serta Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pemimpin Libya menganggap resolusi Dewan Keamanan PBB melanggar piagam PBB. Khadafi memperingatkan bahwa mereka akan menyesal karena mengintervensi Libya.

“Libya tidak untuk kalian, Libya bagi rakyat Libya,” tulis Khadafi. Isi lengkap surat-surat Khadafi itu dirilis juru bicara pemerintah Libya dalam konferensi pers di Tripoli pada 20 Maret.

Khadafi membela keputusannya menyerang kota-kota yang dikuasai pemberontak. “Al Qaeda merupakan organisasi bersenjata, melintas melalui Aljazair, Mauritania dan Mali. Apa yang akan anda lakukan jika anda menemukan mereka mengontrol kota-kota Amerika dengan kekuatan senjata? Apa yang akan anda lakukan, sehingga saya dapat mengikuti contoh dari Anda,” tulis Khadafi dalam suratnya untuk Obama, seperti dikutip laman timesofindia.indiatimes.com.

Untuk membuat suratnya lebih bersifat personal, Khadafi mengawali suratnya dengan menulis, “Untuk putra kami, yang terhormat, Tuan Barack Hussein Obama. Saya telah katakan pada anda sebelumnya, bahwa jika Libya dan AS terlibat perang, semoga tidak, Anda akan selalu menjadi seorang putra. Foto anda tidak akan diubah.”

Tidak ada komentar dari Gedung Putih tentang perasaan Obama setelah membaca surat dari Khadafi tersebut.

Dalam surat untuk Presiden Prancis Nikolas Sarkozy, Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Khadafi menulis, “Libya bukan milik kalian, Libya bagi rakyat Libya. Dewan keamanan, resolusi mereka hampa karena tidak sesuai piagam untuk mengintervensi masalah dalam negeri suatu negara.”

“Anda tidak memiliki hak. Anda akan menyesal jika terlibat dalam masalah ini, di negeri kami. Kami tidak pernah menembakkan sebutir peluru pada rakyat kami, (yang kami serang) ini organisasi Al Qaeda,” tulis Khadafi.

Khadafi dalam surat itu juga menegaskan, pria, wanita, dan anak-anak di negaranya siap mati untuknya. Saat ini Khadafi menjanjikan memberikan satu juta senjata api pada rakyat Libya untuk memerangi aksi militer AS dan aliansinya.

Sementara kemarin, pasukan pemberontak berhasil menguasai kota Ras Lanuf yang kaya minyak. Mereka kini bergerak menuju kota asal Khadafi, Sirte, di wilayah pantai.

“Pemberontak juga menguasai kota Bin Jawad, 50 kilometer barat Ras Lanuf,” ungkap koresponden kantor berita AFP.

Pemberontak hampir saja kehilangan kota basis mereka di Benghazi, sebelum serangan udara pasukan koalisi digelar pada 19 Maret silam. Setelah mendapat bantuan dari pasukan udara koalisi asing, pemberontak mulai menguasai lagi kota Ajdabiya dan Brega, 160 dan 240 kilometer barat Tripoli.

Saat ini pasukan pemberontak terus memukul mundur tentara Khadafi. “Pasukan Khadafi sekarang ketakutan,” ujar Mohammed Ali el-Atwish, 42, salah seorang pejuang oposisi. “Mereka menjatuhkan persenjataan mereka dan memakai pakaian warga sipil. Kami kini tidak terlalu khawatir dengan pasukan Khadafi.”

Pemberontak merayakan pengambilalihan lagi Ras Lanuf dengan menembakkan senjata mereka. Salah satu oposisi, Attia Hamad, 34, mengatakan, pemberontak mengontrol penuh kota tersebut. “Semua ada di tangan kami. Tentara Khadafi mundur sangat cepat, mereka meninggalkan beberapa orang di belakang,” katanya.

Di Tripoli, juru bicara pemerintah Mussa Ibrahim mengatakan, sepanjang malam kemarin, serangan udara aliansi Barat menewaskan tentara dan warga sipil di antara kota Ajdabiya dan Sirte. “Serangan udara terhadap bangsa kami terus terjadi dengan kekuatan penuh. Kami kehilangan banyak nyawa, militer dan warga sipil,” paparnya.

Dia menyerukan gencatan senjata dan pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB. Serangan militer asing terjadi dengan ijin PBB.

Kemarin, NATO tampaknya segera menyepakati untuk mengambil alih komando berbagai operasi militer terhadap rezim Khadafi. Gelagat itu muncul saat pertemua ndi Brussels, kemarin, setelah perundingan alot atas berbagai keberatan yang diungkapkan Prancis dan Turki.

Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini kemarin menetapkan landasan rencana diplomatic untuk penyelesaian krisis di Libya, termasuk pengucilan bagi Khadafi. “Kami tidak dapat memberikan solusi hingga dia tetap berkuasa. Pengucilan bagi Khadafi akan berbeda,” paparnya pada harian La Repubblica.

Menteri Pertahanan AS Robert Gates dalam wawancara kemarin menuduh pasukan Khadafi meletakkan jasad-jasad orang yang dia butuh di lokasi target serangan pasukan koalisi sehingga tampak sebagai korban sipil.

Presiden AS Barack Obama saat ini mendapat tekanan di dalam negeri untuk menjelaskan strateginya pada rakyat Amerika. Menurut Obama, misi internasional telah menyelamatkan banyak orang tidak berdosa dari aksi Khadafi.

Pentagon mengatakan, serangan udara tetap dilanjutkan dengan 160 misi penerbangan pesawat tempur pada Sabtu (26/3). Pada Jumat (25/3) digelar 153 misi penerbangan pesawat tempur.

Di Libya barat, jet tempur Prancis menghancurkan sedikitnya lima pesawat tempur dan dua helikopter milik pasukan Khadafi di Zintan dan Misrata. Sedangkan pesawat tempur Inggris menghancurkan lima kendaraan lapis baja Libya dalam serangan udara di Ajdabiya dan Misrata pada Jumat (25/3).

Pada Sabtu (26/3), pemberontak yang didukung militer Barat, menyerbu Ajdabiya, setelah tank-tank dan kendaraan militer pasukan Khadafi berserakan di jalanan.

Pasukan Khadafi terdesak mundur dari jalan menuju Benghazi, oleh serangan udara pasukan koalisi. “Tank-tank pasukan Khadafi menembaki rumah-rumah tanpa henti. Saya tidak dapat keluar dari rumah saya selama berhari-hari. Tidak ada air atau bahan bakar atau alat telekomunikasi. Saat orang-orang keluar rumah untuk mencari bahan bakar, mereka ditembaki,” ujar Ibrahim Saleh, 34, salah satu warga setempat. (syarifudin)